Selasa, 22 Maret 2016

Retorika Pantai dan Senja


Gelap mulai menggulung senja dalam pendar-pendar  yang semakin mengelabu. Kalau gelap ibarat ronggeng dan senja ibarat lelaki, gerakannya rancak perlahan lengkap dengan kemben, gelungan,  dan selendangnya yang dengan gelagatnya menggelapkan mata lelaki di sekitarnya. Namun lelaki ini tak terlena sedikitpun akan kemolekan tubuhnya.
 Aku tetap di sini, tak beranjak sedikitpun. Sesekali kugosokkan jemari kakiku pada permukaan pasir putih gembur yang kududuki dengan posisi melipat. Tanganku mendekap lutut. Di sampingku tergeletak papan alas tulis beserta sehelai kertas ukuran A4 yang terjepit pada klipnya. Pensil tergeletak di sampingnya.
Pandanganku dihalangi oleh sesosok tubuh sintal. Namun tak benar-benar menghalangiku dari pelarian ombak yang tak lagi bersuara didepanku, menurutku. Kali ini aku benar-benar tak mendengar suara apapun. Bahkan mataku yang terbuka dengan kesadaran penuh pun tak lagi menangkap cahaya. Aku merasakan, bukan mendengar atau melihat. Berkali-kali sapuan ombak menyentuh telapak kaki dalam posisi dudukku. Aku tak peduli.
Perempuan di depanku sangat menikmati suit angin, suara debur ombak, dan bau asam yang sembunyi melebur dalam rongga-rongga cairan samudra. Menghadap ke selatan, direntangkan tangannya lama sekali. Rambutnya tergerai disapu tiupan angin. Wajahnya menengadah. Dari belakang, serasa raut senyum mekar di bibirnya. Sama seperti buih ombak berkali-kali mencoba menyapu kakinya, namun dia sangat menikmatinya.
Aku amat mengagumi perempuan ini dia makhluk langka yang aneh dilengkapi dengan tingkah lakunya yang lincah, ceria, dan tentu saja cerdas . Mungkin sebatas ini yang kutahu dari pengamatanku tentangnya yang baru kutemui beberapa hari yang lalu. Aku dan dia berkali-kali ke tempat ini dan baru kali ini ada kesempatan berdialog secara langsung dengannya. Sebelumnya kami hanya saling melempar seutas senyum.
“Surga” satu kata menguap diiringi senyum.
Aku tersenyum masam, masih dengan diamku. Berusaha kucerna satu kata yang keluar dari senyumnya. Aku belum berani berucap. Sebenarnya aku memiliki banyak pendapat tentang surga dari berbagai referensi dalam kitab ataupun dari ceramah keagamaan yang pernah kuikuti. Namun tampaknya semua  yang kuketahui tentang surga tak cocok kuungkapkan padanya kali ini. Aku diam, tak menanggapi suara yang kudengar darinya.
“Menurut bayanganmu bagaimana gambaran surga?” Kucoba membuka dialog kembali.
“Pantai dan senja.” Masih dengan senyumnya yang khas. “inilah kombinasi ruang dan waktu yang paling romantis. Keduannya saling melengkapi.”
Aku diam kembali. Mencoba memejamkan mata. Mencoba merasakan setiap suara yang meresonansi merambat hingga memasuki  kedua telingaku. Mencoba merasakan apa yang dirasakannya tentang pantai dan senja. Tentang surga.
Kuambil pensil dan papan alas tulis disampingku. Coba kucoretkan sketsaku tentang pantai dan senja yang kali ini kami tempati ruanggannya dan kami jalani waktunya.
“Bagaimana bila ternyata surga itu tak ada?” kataku ragu sambil melanjutkan sketsaku.
“Maksudmu?” Dia membalikkan kepalannya ke arahku secara tiba-tiba.
“Bagaimana bila ternyata surga adalah kebohongan yang dibuat Tuhan semata dalam kitab-kitab dan perkataan utusan-utusannya?” aku membalasnya dengan pertanyaan penjelas.
Dia diam sejenak. Membalikkan lagi raut mukannya ke arah laut. Sesuai dengan patungnya semula, mengakar. Senyumnya masih kurasakan meski tak terlihat jelas.
“Tak masalah, aku sudah menikmati, bahkan memiliki surga saat ini.” Tegasnya. “Kalaupun Tuhan bohong,  aku tak akan menuntut kepada Si Pembuat Kebohongan. Manusialah yang atas dasar ketamakan dan keterbatasan pengetahuannya mau dibohongi oleh keberadaan surga.”
“Lalu, bagaimana dengan manusia? Apakah mereka merasakan kebahagiaan dalam surga yang mereka cari? Yang mungkin sebenarnya hampa?” aku semakin bersemangat menjadi wartawan yang menggali informasi sebanyak-banyaknya kepada narasumber. Tak kusiakan kesempatan berbincang dengannya.
“Manusia yang mencari surga dan menemukannya akan merasakan kegelisahan yang luar biasa, karena ternyata surga hampa. Kemolekan bidadari, sungai madu, manis buah-buahan, dan kekekalan hidup semuannya tak ada gunannya bila tak ada Tuhan di sana.” Jawabanya disertai merdunya nyanyian alam. Meskipun aku tak melihat wajahnya dari belakang, aku merasakan senyumnya melebar, masih dengan mata yang terpejam.
Aku tak bertannya lagi. Kucermati suara-suara lincah yang baru saja mengalir dari dalam senyumnya. Kali ini aku yang mulai memejamkan mata, senyum berlari ke dalam rasaku. Dalam jarak waktu yang sangat singkat aku seperti menemukan keajaiban kata-katanya. Sebenarnya yang berbicara adalah hatinya.
Dengan ringan aku mengangkat tubuhku untuk berdiri dan mencoba berada disampingnya. Kali ini aku benar-benar berada di sampingnya. Persis seperti bayanganku dari belakang tadi. Senyumnya mekar maksimal, matanya tajam memejam.
“Sejak kapan kamu ada di sampingku?” Dia menyadari kehadiranku di sampingnya. Mungkin karena hembusan angin yang tertahan olehku.
“Sejak senyummu mengembang maksimal” Aku masih memandangi raut mukanya.
“Hati-hati, jangan terlena oleh janji-janji surga.” Senyum tak terlepas dari kata-katanya.
Aku terhenyak. Inikah surga? Pikirku. Benar kata-katanya. Aku coba mengingkari kalau aku sedang terlena namun tak bisa. Aku terlena akan surga yang saat ini kupandangi. Bukan bidadari, bukan sungai madu, atau apapun yang diceritakan kitab maupun tukang dakwah. Dia adalah surga. Aku masih berusaha menggeleng. Ah, sudah terlanjur larut.
 “Bukankah tujuan dari sebagian besar manusia adalah surga?” Tanyaku pelan.
“Maka jadilah minoritas. Jangan terlena dengan yang banyak. Kebenaran yang sejati itu dari Dia, bukan dari apa kata orang banyak.”
Aku mengalihkan pandanganku ke selatan. Mencoba mengingkari bahwa aku terlena oleh surga. Jelas aku masih tak bisa. Dia masih makhluk aneh bagiku. Kata-kata wingitnya menyihirku dalam kedalaman tentang surga.
“Bisa saja Tuhan bergurau dengan cara menipu manusia hingga akhirnya kita terlena dengan surga yang kata-Nya indah itu. Dia penguasa seluruhnya. Langit, bumi, surga, bahkan neraka sekalipun.”
“Lantas, kira-kira buat apa Dia bergurau?”
“ya suka-suka Dia. Wong Dia maha Mengetahui, Maha Semaunya, Maha Segalanya” kali ini matanya terbuka mengantar tawanya meringkik merdu yang masih kurasakan damai.
Aku semakin terlena dengan perbincangan ini, dia, dan tentang surga. Aku tak kuat, aku kembali ke tempatku duduk kuambil kembali sketsa dan pensilku yang tergeletak. Kuteruskan sketsa tentang surga yang setengah jalan sebelum aku berdiri.
Kali ini dia mengatupkan kedua tangan yang sedari tadi merentang. Ia berbalik menuju ke arahku. Duduk di sampingku dengan merapatkan lututnya ke dada. Sama seperti posisiku. Bedanya aku sambil meneruskan sketsaku, dia tidak. Matanya melongok ke arah lukisanku. Aku mencoba menutupnya tanda malu tak mau sketsaku terlihat. Namun terlambat.
“Itu surga menurut pemikiranmu saat ini?” tanyannya mencoba mengorek caption sketsaku.
“Bukan” aku mencoba menutupnya rapat dengan kedua tanganku. Aku berbohong. “Pertanyaanmu retoris.”
“sama seperti jawabmu, retoris.” Sahutnya cerdas.
“bukankah surga bagi masing-masing orang berbeda? Aku mencoba menemukan surgaku sendiri.”
“Hati-hati, jangan terlena. Pembuat surga lah yang mesti dicari, bukan surganya.”
Aku diam lagi. Pelan-pelan kusingkirkan tanganku yang menutupi sketsa. Dia masih melongok pada sketsaku. Senyumnya mekar kembali, sama seperti bayanganku ketika memandangi bagian belakang tubuhnya.
“Kamu suka?” tanyaku sambul membalas senyumnya yang menghadap sketsaku.
“Kamu sebenarnya tahu, namun pura-pura tidak tahu.”
“maksudmu?”
“Kamu makhluk retoris.” Katanya. Masih disertai senyum yang kubalas.
Aku tak berkata lagi. Kualihkan pandangan serta senyumku ke arah ombak. Belum benar-benar gelap. Pendar-pendar cahaya jingga masih menyorot melalui mozaik alamnya. Tak tertata rapi, kontras, namun indah. Berkali-kali aku menikmati pantai dan senja, baru kali ini yang paling nikmat. Kolaborasi antara pantai dan senja kali ini berubah nama menjadi surga karena kehadiran dan kecerdasan berpikirmu ada diantaranya.
Aku menyodorkan sketsaku yang memang sengaja tak kuselesaikan detailnya. Biar kamu sendiri yang meraba-raba tentang surga menurut persepsiku. Seperti katamu, aku makhluk retoris. Diambilnya kertas A4 dari tanganku.
         “Surga yang sebenarnya mungkin bukan sesuai pernyataanmu, atau sesuai sketsaku. Semoga kita menemukan Dia, pembuat keyakinan tentang surga.” Aku beranjak meninggalkannya bersama pantai dan senja. Semoga tak terlena, harapku.